Kembalinya veteran hip-hop 90-an yang masih political dan spiritualis. Hey, ada angin apa di dunia hiphop Amerika tahun ini? Dua grup besar legenda hidup dari era 90-an merilis album ambisiusnya masing-masing, mereka adalah Cypress Hill (Maret 2010) dan The Roots di bulan Juni lalu. Good signs of a new hip-hop movement? Mungkin saja. Well, mari sedikit melepaskan segala unsur distorsi rock yang diberikan Cypress Hill. Neo soul is the keyword, The Roots-lah analoginya di ranah hip-hop. Setelah merilis Rising Down pada 2008 lalu, How I Got Over dirilis sebagai respon terhadap pemerintahan dan kebijakan terbaru Amerika saat ini. Masih political dan poetic. Kalau Cypress Hill lebih straight to the point dan cenderung kasar, The Roots mempertimbangkan keindahan bahasa di liriknya. Simak saja bagaiman mereka mengumandangkan doa untuk Tuhan di abad internet dengan metafora seru mengenai identitas, globalisasi dan isu ras seperti, “If everything is made in China, are we Chinese? And why do haters separate us like we Siamese?” (Dear God 2.0). Atau rhyming indah tentang posisi Amerika di mata dunia, “We livin’ in a war zone like Rwanda. Before I go back to the heavenly fatha. Pray for me if it ain’t too much botha. Whatever don’t break me or make me stronga.” (How I Got Over). Keseluruhannya dibalut signature sounds yang dibangunnya sejak awal, hip-hop dengan wajah neo soul yang chillin’ seakan bertentangan dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan bernada negatif di liriknya (padahal Questlove bilang ini adalah album yang positif). Seperti tradisi album-album hip-hop lainnya, beberapa MC dan artis didaulat untuk membantu The Roots. Uniknya mereka melakukannya melintasi batas musik itu sendiri. Simak contemporary ballads hero John Legend di lagu The Fire, indie folk supergroup Monster of Folk di lagu Dear God 2.0 dan si pemain harpa cantik dari jajaran weird folk Joanna Newsom yang sample suaranya digunakan untuk track Right On. Keseluruhan lagu membawa kami untuk kembali merayakan singgasana musik warisan Roy Ayers ini sambil mengagumi bahwa hip-hop sudah seperti kemanusiaan dan spiritualitas itu sendiri. Best song: Right On. Dulu kami mendengar lagu Book of Right-On di albumnya Joanna Newsom dengan nuansa cute dan kontemplatif lagi melodius. Di tangan The Roots, nomor ini malah memprovokasi kami untuk mengangguk-angguk sambil menyapa teman, “Yo! ‘Sap, Bro!” Mereka juga melakukan dekonstruksi terhadap lirik yang sudah diciptakan Joanna sebelumnya. (foto: islanddefjam.com)
Dilahirkan sebagai master electroclash di eranya, LCD Soundsystem mampu membaca bagaimana mengembangkan orientasi musiknya dengan baik.
Tak melulu berkisar di electrohouse. Proyek ini mencoba beralih pada keriuhan scene disco yang dekat dengan No Wave di New York (bukan disco ala Saturday Night Fever). Tentu terdengar ngerock seperti memperkuat definisi electroclash ala DFA Records, label penanda scene tersebut.
Dalam album ini, yang menjadi best song adalah One Touch. Bagai mendengar New York Noise dari Soul Jazz Records yang berisi disco ber-spiritpunk.
Label 4AD memang pandai “merampok” artis dari label lain. The National menjadi korban label itu selanjutnya. Di rumah musik barunya (yang masih di manajemen Beggars Banquet), band ini mendewasakan musiknya lebih apik.
Sound dengan akustik sempurna untuk ukuran musik indie rock, lebih gelap secara aransemen, dan suara bariton si vokalis yang jadi signature. Satu lagi masterpiecelabel yang dulu membesarkan nama Cocteau Twins ini. Yang menjadi best song adalah Bloodbuzz Ohio. Indie rock pun bisa terdengar loungey di tangan The National. (foto: ventvox.com)
Silahkan menikmati kliping karya-karya terbaik alternatif dari Inggris dengan panjang track dari setiap lagu tidak kurang dari empat menit. Sebuah kumpulan harmoni dramatis yang diceritakan dengan gaya yang epic. Vokal Jezz Williams terdengar lesu dan menerawang, membangun kesan tua di balik kejayaan mereka. Dalam album ini, yang menjadi best song: Catch the Sun. Lagu yang satu ini tetap stands out walaupun Jamie Cullum telah me-remake-nya dengan nuansa yang lebih kekinian. Membandingkan kedua versinya, langsung terdengar mana yang asli. (Foto: heavenlyrecordings.com)
Kabar gembira bagi Anda pecinta musik The Beattles. Dalam rangka memperingati ulang tahun John Lennon ke-70, EMI berencana meluncurkan kembali delapan album karya penyanyi legendaris itu dalam bentuk ... [detail]